Produk iPhone palsu kini bertebaran di pasar gelap dan internet. Baru-baru ini, polisi China telah menahan lima orang yang diduga membuat dan menjual iPhone palsu.
Gerombolan ini diduga telah membeli komponen ponsel iPhone itu dari Guandong, kota selatan China, dan kemudian merakitnya di sebuah apartemen di Shanghai. Dalam penggerebekan itu, polisi China menemukan 200 iPhone palsu.
Yang menarik, iPhone palsu ini menggunakan sebagian komponen yang sama dengan buatan Apple. Fungsi dalam iPhone palsu ini pun sama dengan yang asli. Cuma, masa pemakaian baterainya lebih pendek.
"Sangat sulit bagi konsumen untuk membedakan mana yang palsu dan yang asli," kata seorang penyidik.
iPhone palsu dengan biaya produksi sebesar 313 dollar AS ini ditawarkan di pasar gelap dan internet dengan harga sedikit lebih murah ketimbang aslinya. Harganya kira-kira sekitar 4.000 yuan atau sekitar 626 dollar AS per unit. Apple sendiri masih bungkam dengan kasus ini.
Yang jelas, kasus ini menambah daftar panjang pelanggaran hak kekayaan intelektual yang dilakukan di China. Raksasa Asia ini telah berulang kali dikritik atas merebaknya pelanggaran hak kekayaan intelektual.
Banyak pembajakan hak kekayaan intelektual atas merek-merek terkenal. Barang-barang bajakan itu sangat gampang ditemui di toko-toko di kota besar. (kompas)
Read More...
Facebook akhirnya bereaksi terhadap tudingan Nik Cubrilovic, praktisi teknologi informasi asal Australia yang mengkritik Facebook telah mematai-matai penggunanya, bahkan setelah mereka log out.
Menanggapi tuduhan itu, Director of Engineering Facebook Arturo Bejar mengatakan mereka memang mengoleksi data penggunanya yang disebut cookies. Namun Bejar memastikan data tersebut segera dihapus.
"Kami bertanggung jawab dalam mengumpulkan data dan kemudian membuangnya," ujar Bejar seperti dikutip dari Wall Street Journal, Selasa, 27 September 2011.
Untuk diketahui, cookie adalah serangkaian teks yang disimpan pada komputer oleh situs website yang telah dikunjungi. Umumnya, cookie menyimpan pengaturan atau preferensi pengakses situs tadi, misalnya bahasa yang dipilih atau lokasi pengguna.
Cookie dapat menyimpan berbagai jenis informasi, termasuk di antaranya informasi pribadi seperti nama, alamat rumah, alamat e-mail, atau nomor telepon. Tetapi informasi ini hanya akan disimpan jika penggunanya pernah memberikan data tersebut di situs.
Menurut Bejar, Facebook sengaja menyimpan cookies tersebut untuk keamanan pengguna itu sendiri agar mereka terhindar dari serangan phishing dan spam. Selain itu, bila pengguna menggunakan komputer yang berbeda saat mengakses Facebook, biasanya terdapat langkah tambahan yang harus dilalui pengguna untuk membuktikan bahwa mereka memang benar pemilik akun.
"Cookies memungkinkan Facebook meloncati langkah ini bila pengguna mengakses Facebook dari komputer yang pernah mereka gunakan sebelumnya," ujarnya. Seorang juru bicara Facebook juga mengatakan informasi yang mereka terima tidak akan digunakan untuk kepentingan beriklan.
Cara Facebook mengumpulkan data dari para penggunanya adalah seperti berikut, ketika mengakses situs Facebook, baik melalui mekasnisme log in atau tidak, situs ini meletakkan file kecil yang disebut 'cookies' dalam komputer penggunanya.
Beberapa cookies ini tetap tinggal di komputer bahkan setelah pengguna melakukan log out. Kemudian kapan pun pengguna mengunjungi situs yang terkoneksi dengan Facebook, misalnya melalui tombol 'Like', informasi dari cookies ini dikirim kembali ke Facebook. Intinya, dengan praktek ini, Facebook memegang daftar history saat pengguna mengakses Internet.
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah Facebook meluncurkan fitur terbarunya, 'Timeline', ahli teknologi informasi Nic Cubrilovic menuding Facebook memata-matai penggunanya karena situs ini dapat mengintip jejak pengguna mereka dalam setiap halaman yang berisi tombol atau widget dari Facebook dan mengirimkan data ini kembali ke server-nya. "Seharusnya makna 'log out' bukan seperti ini," ujar Cubrilovic. (tempo)
Read More...
Kekuatan Apple di pasar tablet dinilai masih akan awet di tahun ini. Bahkan sebuah laporan khusus menyebutkan, Apple dengan iPadnya akan menguasai pasar di tahun 2014.
Laporan ini diturunkan oleh analis di Gartner. Pada tahun 2011 ini, iPad diproyeksikan meraih 73,4% penjualan tablet di seluruh dunia, diikuti oleh tablet Android (17,3%).
Untuk platform lainnya, Gartner pesimis bahwa mereka akan meraih share lebih dari 5% di tahun 2011. "Kami meramalkan Apple untuk tetap menguasai market share sampai tahun 2014 dengan pencapaian lebih dari 50%," ujar Carolina Milanesi, Research Vice President di Gartner.
Menurut Milanesi kekuatan Apple diarenakan perusahannya selalu memberikan pengalaman pengguna yang unggul melalui hardware, software dan juga layanannya. Dan selama para pesaing tidak berusaha untuk melakukan pendekatan serupa, maka Apple akan tetap berjaya.
Selain memprediksi bahwa Apple masih akan mendominasi pasar, Gartner juga melihat kondisi para pesaing Apple.
Lemahnya tablet berbasis Android di tahun ini di mana market share-nya hanya meningkat sebanyak 3%, disebabkan karena harga yang tinggi, lemahnya user interface serta terbatasnya aplikasi tablet yang disediakan.
Sedang untuk platorm milik RIM, Gartner melihatnya sebagai platform yang menjanjikan meski ia melihat RIM akan melalui periode yang sulit.
Tantangan terbesar yang harus dihadapi RIM ialah untuk menarik lebih banyak support dari pengembang aplikasi dalam periode penuh tekanan bisnis smartphone yang kini sedang mereka alami. (Detik/Gartner)
Read More...

Setelah dibuka untuk umum, situs jejaring Google+ (Google Plus) mengalami penambahan user. Penambahan ini mengakibatkan jumlah penggunanya mendekati 50 juta, dan Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang user terbesar.
Google+ dibuka pada 20 September lalu dengan menghadirkan banyak fitur baru seperti "Hangouts on Air" dan pengintegrasian dengan Google Docs.
Menurut Internet entrepreneur, Paul Allen, yang telah mengkalkulasi pertumbuhan Google+ melalui penghitungan nama keluarga, Google+ mencapai pertumbuhan 30% hanya 2 hari setelah ia dibuka.
Allen menyakini bahwa kini Google+ telah berhasil 'dihuni' setidaknya 43,4 juta user. Pertumbuhan 30% ini tentu saja sangat berarti bagi Google+, situs yang dianggap tidak akan pernah sukses. Sebagai perbandingan, Facebook membutuhkan 3,5 tahun untuk meraih 50 juta user.
Sumbangsih terbesar pengguna Google+ diketahui di antaranya berasal dari Indonesia, China, Vietnam, Jepang, dan Thailand.
Allen juga turut melihat persaingan Facebook-Google+ yang kian ramai dengan penambahan fitur kedua situs tersebut dan perubahan desain yang baru saja dilakukan Facebook.
Dikatakannya, Facebook membuat banyak usernya merasa tidak nyaman dengan perubahan yang dilakukannya. Sebaliknya, Google+ akan berpotensi 'dihuni' lebih banyak orang lagi karena ia konsisten dengan desain yang minimalis. (Detik/eWeek)
Read More...